Blogger templates

Minggu, 04 Oktober 2015

Materi Kuliah Manajemen Pemasaran


POWERPOINT BAB1  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB2  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB3  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB4  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB5  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB6  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB7  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB8  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB9  DOWNLOAD
POWERPOINT BAB10 DOWNLOAD

MAKALAH BAB 1  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 2  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 3  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 4  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 5  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 6  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 7  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 8  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 9  DOWNLOAD
MAKALAH BAB 10 DOWNLOAD

Mereka yang Semakin Bersorak dan Menjerit jika Rupiah Menembus Level Rp 14.000-15.000 Per Dollar AS

Rupiah telah menyentuh Rp 13.900 per dollar USD (Jumat, 21/8/2015). Bukan tidak mungkin besok, Senin (24/8), Rupiah akan menembus level psikologis Rp 14.000 dan terus merosot hingga Rp 15.000 per dollar USD pada hari-hari selanjutnya.
Usaha-usaha untuk menjaga Rupiah agar tidak tergerus terus, telah banyak di lakukan. Menteri Keuangan kita, Bambang Brodjonegoro sibuk mencari kambing hitam penyebab Rupiah terus merosot seraya mengatakan bahwa Rupiah sudah undervaluable. Menko Perekonomian yang baru, Darmin Nasution, melakukan usaha senyap (entah apa) untuk mengangkat kembali Rupiah dari keterpurukannya.

Presiden Jokowi sendri, sibuk membangun optimisme kepada rakyat bahwa ekonomi kita akan meroket bulan September, Oktober dan November tahun ini. Sementara Wapres Jusuf Kalla sibuk menghimbau para pengusaha agar membatasi penggunaan dollar. Bank Indonesia setali tiga uang. Para pejabat BI sibuk juga mengeluarkan peraturan pembatasan transaksi Dollar di perbankan.
Pelemahan Rupiah sebetulnya hal yang biasa apalagi jika sifatnya hanya berfluktuasi wajar, lalu kembali ke level terkuatnya. Namun pelemahan Rupiah kali ini benar-benar mengkhawatirkan karena hampir menembus Rp 14.000 per dolar AS. Pelemahan Rupiah itu adalah yang terburuk sejak tahun 1998 dan menempatkan Rupiah mata uang terendah keempat di dunia.

Lalu siapa yang bersorak jika Rupiah terus melemah hingga mencapai level Rp 14.000- 15.000 per Dollar AS?

Pertama, para pemilik tabungan Dollar. Bagi mereka yang sudah terbiasa menabung menggunakan mata uang dolar, maka kondisi saat ini merupakan hal yang sangat menggembirakan. Betapa tidak, dengan semakin menguatnya mata uang dolar maka para pemegang Dollar akan dipastikan mengalami keuntungan jika menukar tabungan Dollar mereka kedalam mata uang Rupiah. Bagi mereka yang tidak mempunyai rasa nasionalisme akan bertindak sebagai spekulan macam George Soros, memborong Dollar di pasaran. Dengan demikian Dollar semakin langka dan harganya akan semakin meroket.

Kedua, para pengusaha ekspor. Para pengusaha yang produknya dijual ke luar negeri akan bersorak karena mendapatkan keuntungan. Alasannya biaya produksinya di Indonesia berupa Rupiah namun akan mendapatkan Dollar dari hasil penjualannya di luar negeri. Asalkan komponen produksinya tidak bergantung pada bahan-bahan yang harus diimpor dari luar negeri, maka para ekportir akan kendapat keuntungan besar. Namun jika bahan baku juga mereka impor, maka kemungkinan mereka hanya sedikit mengalami keuntungan dengan melemahnya rupiah. Walaupun begitu, seiring dengan melemahnya rupiah, maka biaya-biaya untuk beban yang lainnya pun juga ikut naik. Jadi, keuntungan yang didapat pun tidak terlalu besar.

Ketiga, sektor pariwisata. Melemahnya nilai tukar Rupiah akan membuat negara atau para pemegang dolar di luar negeri relatif lebih kaya jika mereka berada di Indonesia. Objek wisata Indonesia pun akan makin menarik minat kunjungan wisatawan dari luar negeri karena dengan Dollar yang dimiliki, maka beragam fasilitas yang ada di Indonesia kelihatan murah. Dengan kondisi Rupiah yang terpuruk, maka para wisatawan luar negeri akan semakin tertarik melancong ke Indonesia. Itulah sebabnya program pertama dari Menko Maritim dan Sumberdaya, Rizal Ramli, adalah meningkatkan sektor pariwisata.

Keempat, para pekerja freelance. Dibalik melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, para pekerja bebas (freelance) yang dibayar atau digaji dengan menggunakan mata uang dolar diuntungkan. Ini menjadi berkah bagi mereka mengingat setiap gaji yang diterimanya tentu akan menjadi lebih besar jika ditukar kedalam mata uang rupiah. Ternyata ada banyak juga orang Indonesia yang menjadi seorang pekerja freelance yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan asing. Betapa tidak, dalam sekali proyek biasanya mereka dapat dibayar dengan gaji 10 USD per jam. Jika dalam sehari dihitung delapan jam kerja, maka seorang pekerja freelance akan mendapat 80 USD per hari atau setara dengan Rp 1.120.000 (kurs 14.000/per Dollar). Gaji tersebut tentu bukan jumlah yang sedikit.

Kelima, gaji TKI di luar negeri semakin besar. Tak jauh berbeda dengan pekerja freelance, para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri juga akan ketiban rejeki nomplok. Betapa tidak, mereka yang bekerja serabutan sebagai seorang pembantu rumah tangga saja bisa menerima gaji hingga Rp 7 juta per bulan. Seorang pembantu rumah tangga di Hong Kong misalnya, rata-rata mereka akan menerima gaji HKD 4500 per bulan. Dengan kondisi nilai tukar rupiah saat ini maka bisa dipastikan para TKW akan semakin banyak mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Jika ada yang bersorak, maka sebetulnya lebih banyak pihak yang menjerit jika Rupiah terus melemah hingga mencapai level Rp 14.000- 15.000 per Dollar AS. Siapa mereka?

Pertama, para importir. Para pengusaha yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri maupun bahan-bahan produksi akan sangat terpukul dengan melemahnya rupiah. Bila pangsa pasar produk tersebut di luar negeri atau dijual kembali ke luar negeri maka relatif tidak berpengaruh, namun bila produknya di jual di dalam negeri Indonesia maka harganya menjadi naik. Dengan naiknya harga, maka omzet penjualan bisa menurun. Bila Rupiah terus terperosok, banyak perusahaan terpaksa melakukan penghematan dan efisiensi. Para pengusaha akan  mengurangi biaya produksi dengan cara melakukan perumahan karyawan hingga PHK. Hal ini akan makin memperburuk kondisi perekonomian Indonesia dan bisa memicu gejolak sosial.

Kedua, para pemilik utang luar negeri: pemerintah dan swasta. Dengan melemahnya Rupiah, maka jumlah utang luar negeri dari pemerintah dan swasta akan makin membesar. Memang di sisi lain penerimaan negara seperti minyak mentah yang dijual ke luar negeri akan semakin besar. Namun jika penerimaan negara dalam Rupiah seperti pajak, maka akan mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utang luar negeri. Utang luar negeri akan membengkak dan akan menjadi beban. Upaya para pengutang untuk memperoleh dolar dalam rangka membayar utang yang jatuh tempo, bila jumlahnya sangat besar, juga dapat makin memperparah pelemahan nilai tukar rupiah.

Ketiga, para pelakua dunia bisnis. Para pengusaha yang menjual barang-barang elektronik, suku cadang otomotif dan produk industri berbahan baku impor akan terimbas meningkatnya harga jual. Banyak perusahaan yang akan terbebani dengan rugi selisih kurs. Dengan beban selisih kurs, maka mau tidak mau para pengusaha akan menaikkan barang-barang dagangannya. Jika harga naik, otomatis penjualan turun karena permintaan turun. Bisnis pun lesu.

Keempat, dampak pada suku bunga. Pelemahan Rupiah akan memberikan dampak pada kenaikan suku bunga. Tingginya suku bunga akan menghambat pertumbuhan kredit. Pelemahan rupiah akan memicu tingginya risiko kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL).

Kelima, wisata atau belajar ke luar negeri. Warga negara Indonesia yang ingin berwisata ke luar negeri atau belajar ke luar negeri, akan merasakan dampaknya, karena biaya akan lebih mahal.
Dampak paling buruk jika Rupiah semakin melemah adalah krisis ekonomi. Awal kerusuhan yang terjadi tahun 1998 dimulai dengan krisis moneter, disusul oleh krisis ekonomi dan puncaknya pada krisis politik. Peristiwa buruk tahun 1998, telah membuat Indonesia mundur ke belakang 10 tahun. Bila kejadian yang sama kembali terulang, maka Indonesia akan mundur beberapa tahun ke belakang.

Oleh karena itu, setiap komponen baik pemerintah, swasta maupun rakyat Indonesia harus bersatu dalam menghadapi dampak buruk melemahnya Rupiah. Caranya, masyarakat harus mengutamakan konsumsi produk-produk dalam negeri, tidak bertindak sebagai pelaku spekulan atas Dollar tetapi mencintai Rupiah. Masyarakat juga diminta agar tidak menjadi penghianat bangsa secara diam-daiam dengan memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah sebagai ajang memperkaya diri sendiri.

Pemerintah secepatnya melakukan swasembada beras, daging sapi, bawang, cabai, kedelai, gula, garam hingga singkong sehingga tidak perlu diimpor dari luar negeri. Pemerintah juga jika terpaksa berutang, lebih baik meminjam uang rakyat dengan menerbitkan lebih lanjut surat utang kepada rakyat dan bukan meminjam utang kepada luar negeri.

Pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik dan menjauhi korupsi juga akan sangat berperan dalam menghemat pengeluaran negara sehingga uang negara yang terbatas akan bisa digunakan untuk sektor-sektor produktif, meningkatkan lapangan kerja dan akhirnya kita bisa keluar dari krisis.



GRAFIK USD - IDR


Data Historis

Tanggal Kurs Jual Kurs Beli Kurs Tengah
2 Oct 2015, Fri 14,795.00 14,495.00 14,645.00
1 Oct 2015, Thu 14,805.00 14,505.00 14,655.00
30 Sep 2015, Wed 14,790.00 14,490.00 14,640.00
29 Sep 2015, Tue 14,810.00 14,510.00 14,660.00
28 Sep 2015, Mon 14,845.00 14,545.00 14,695.00
25 Sep 2015, Fri 14,835.00 14,535.00 14,685.00
24 Sep 2015, Thu 14,795.00 14,495.00 14,645.00
23 Sep 2015, Wed 14,795.00 14,495.00 14,645.00
22 Sep 2015, Tue 14,655.00 14,355.00 14,505.00
21 Sep 2015, Mon 14,595.00 14,295.00 14,445.00
18 Sep 2015, Fri 14,535.00 14,235.00 14,385.00
17 Sep 2015, Thu 14,600.00 14,300.00 14,450.00
16 Sep 2015, Wed 14,600.00 14,300.00 14,450.00
15 Sep 2015, Tue 14,550.00 14,250.00 14,400.00
sumber: BCA

Profil Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya

Sejarah

Fakultas Ekonomi didirikan pada tanggal 31 Oktober 1953 di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Syakhyakirti yang berstatus swasta. Kemudian, menjelang peresmian Universitas Sriwijaya pada tanggal 17 September 1960, Fakultas ini diserahkan oleh pihak Yayasan kepada Universitas Sriwijaya beserta seluruh mahasiswa, dosen, dan pegawai administrasinya, yang kemudian merupakan cikal bakal Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Pada saat peresmian Universitas Sriwijaya, 3 November 1960 (PP Nomor: 42 Tahun 1960 tanggal 29 Oktober 1960), Fakultas ini hanya mempunyai satu jurusan, yaitu Jurusan Ekonomi Perusahaan yang kemudian diubah menjadi Jurusan Manajemen.
Tanggal 14 Februari 1961 dibuka Fakultas Ekonomi cabang Lampung, dan pada tahun 1963 memisahkan diri dari Fakultas Ekonomi Unsri. Berdasarkan SK Rektor Nomor: 4263/A/I/1965 dibuka Fakultas Ekonomi cabang Bangka, dan pada tanggal 22 November1983 ditutup.
Tahun akademik 1962/1963 Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya membuka 2 jurusan baru, yaitu Jurusan Akuntansi dan Jurusan Umum yang kemudian diubah menjadi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Berdasarkan SK Ditjen Dikti Nomor: 212/Dikti/Kep/1996, sejak 1996, Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan diubah namanya menjadi Jurusan Ekonomi Pembangunan.
Tanggal 23 November 1965, Fakultas Ekonomi membuka Program Extension dengan Jurusan Ekonomi Perusahaan (sekarang menjadi Jurusan Manajemen). Dalam kurun waktu 1983-1986, program ini tidak menerima mahasiswa baru. Barulah pada tahun akademik 1987 program ini kembali menerima mahasiswa baru. Kemudian, pada tahun akademik 1993/1994 dibuka Jurusan Akuntansi, dan pada tahun akademik 2001/2002 dibuka jurusan Ekonomi Pembangunan. Sejak tahun 2009 Program Extension Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya tidak ada lagi, ini sesuai dengan surat edaran Dikti Nomor: 595/D5.I/2007 tanggal 27 Februari 2007
Kegiatan perkuliahan pada awalnya diselenggarakan di kampus Bukit Besar Palembang. Akan tetapi dengan dibangunnya kampus baru di Indralaya, mahasiswa tahun akademik 1993/1994 mulai kuliah di Kampus Indralaya dan sejak tanggal 1 Februari 1995 kegiatan akademik untuk mahasiswa jalur penerimaan pusat (SNMPTN/SBMPTN) seluruhnya diselenggarakan di Kampus Indralaya. Kampus Palembang hanya menyelenggarakan kegiatan akademik untuk mahasiswa jalur penerimaan lokal (USM).
Fakultas Ekonomi juga menyelenggarakan Program Diploma Tiga (D-III) sejak tahun 1983. Program ini merupakan hasil perubahan lembaga Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan. Adapun program pendidikan ahli ini merupakan passing out Akademi Administrasi Negara pada 1975. Sampai saat ini Program Diploma Tiga (D III) mempunyai dua program studi, yaitu Program Studi Kesekretariatan dan Program Studi Akuntansi, dengan 8 konsentrasi (Akuntansi Keuangan Umum, Akuntansi Perpajakan, Akuntansi Syariah, Akuntansi Keuangan Daerah, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Perbankan Syariah, dan Kesekretariatan).
Tahun 2005, Fakultas Ekonomi telah membuka kelas berbahasa Inggris pada semua jurusan untuk Strata 1.
Tahun 2006, Fakultas Ekonomi membuka Program Studi Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) berdasarkan SK Mendiknas Nomor: 937/D/T/2006 tanggal 17 Maret 2006 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Profesi Akuntansi pada Universitas Sriwijaya yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Rektor Unsri Nomor: VII-1501/PT11.1.2/Q/2006 tanggal 20 Juli 2006 tentang Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Profesi Akuntansi pada FE Unsri. Program ini dilaksanakan dalam dua semester dan lulusannya berhak mendapatkan sebutan (gelar) Akuntan. Setelah memperoleh gelar Akuntan lulusan PPAk harus mendaftar ke Depkeu untuk mendapatkan Nomor Register.
Tahun 1996, Fakultas Ekonomi membuka Program Pascasarjana (S2) Ilmu Ekonomi berdasarkan SK Ditjen Dikti Nomor: 102/Dikti/Kep/1996 tanggal 17 April 1996 tentang izin penyelenggaraan Ilmu Ekonomi (S2). Pada mulanya Program ini dikelola oleh Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya dengan 1 (satu) BKU yaitu Ilmu Ekonomi dengan konsentrasi Ekonomi Pedesaan dan Sumberdaya Manusia. Pada tahun 2006 dibuka BKU Akuntansi berdasarkan SK Rektor Nomor: 279/PT11.1.2/Q/2006 dan pada tahun 2007 dibuka BKU Manajemen berdasarkan SK Rektor Nomor: 0082/H9.3.1.1/PE/2007. Sejak tahun 2011 BKU Manajemen berubah menjadi Program Studi Ilmu Manajemen berdasarkan SK Ditjen Dikti Nomor: 227/D/O/2010 tanggal 22 Desember 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Program Magsiter (S2) Program Studi Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya.
Tahun 2011, Fakultas Ekonomi membuka Program Studi S3 Ilmu Ekonomi berdasarkan SK Mendiknas Nomor: 154/D/O/2010 tanggal 18 Oktober 2010 tentang pemberian ijin penyelenggaraan Program Studi Ilmu Ekonomi (S3) pada Universitas Sriwijaya, dan SK Rektor Nomor: 200/H9/DT.Kep/2010 tanggal 21 Desember 2010 tentang penyelenggaraan Pendidikan Program Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya.
Tahun 2013, Pengelolaan Program Pascasarjana (S2 dan S3) sepenuhnya di bawah pengelolaan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, baik bidang akademik maupun administrasi keuangan.

Visi dan Misi

Visi Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya adalah menjadi Fakultas Ekonomi yang terkemuka di kawasan ASEAN pada dasawarsa kedua abad ke-21
Misi Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya adalah menghasilkan lulusan yang berjiwa Pancasila, berkualitas, dan mampu bersaing dengan:
  1. Menyelenggarakan, membina dan mengembangkan pendidikan dan pengajaran di Fakultas Ekonomi dalam upaya menghasilkan manusia terdidik yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi
  2. Menyelenggarakan, membina dan mengembangkan penelitian di Fakultas Ekonomi dalam rangka menghasilkan pengetahuan empiric, teori, konsep, metodologi, model atau informasi baru yang memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi
  3. Menyelenggarakan, membina dan mengembangkan pengabdian kepada masyarakat yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat
  4. Menciptakan suasana akademik yang kondusif di lingkungan kampus dan membangun kerjasama dengan perguruan tinggi di kawasan Asean pada khususnya dan Dunia pada umumnya.
     
Tujuan Fakultas Ekonomi

  1. Menghasilkan lulusan yang:
    • Jujur, disiplin, dan menghargai pendapat orang lain serta memiliki integritas kepribadian yang tinggi
    • Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidangnya
    • Menguasai konsep dan nilai-nilai ilmiah sehingga mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai ilmuwan yang memiliki wawasan luas dalam lingkungan global
    • Mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan serta teknologi secara profesional dalam bidang keahliannya melalui kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat
    • Bersifat terbuka dan tanggap terhadap kemajuan ilmu dan teknologi untuk memecahkan permasalahan lokal, regional, dan global.
  2. Menyelenggarakan administrasi fakultas yang modern, efektif, dan efisien.

Pimpinan
  • Dekan             :  Prof.Dr. Taufiq marwah M.Si
  • Pb. Dekan I    :  Dr. Mohammad Adam, SE.
  • Pb. Dekan II   :  Abu Kosim, SE.Ak.MM
  • Pb. Dekan III  :  Drs. Bambang Bemby MA,Ph.D

Program Pendidikan

  1. Jurusan Manajemen (S1)
  2. Jurusan Ekonomi Pembangunan (S1)
  3. Jurusan Akuntansi (S1)
  4. Kesekretariatan (D3)
  5. Akuntansi (D3)
  6. Magister Manajemen (S2)
  7. Ilmu Manajamen (S2)
  8. Ilmu Ekonomi (S2)
  9. Ilmu Ekonomi (S3)
    • Ilmu Akuntansi
    • Ilmu Manajemen
    • Ilmu Ekonomi Pembangunan